Occam's Razor and Alexiou Principle - Part 1 (Theory)

by 7:50 PM








Analogy : 

      Sebuah benda dilempar ke atas akan jatuh kebawah dan mengarah kepusat bumi karena adanya gravitasi di bumi. Sehingga kita tidak memerlukan penjelasan lainnya seperti benda itu jatuh mungkin selain dari adanya gravitasi bumi, juga adanya bantuan setan tidak terlihat yang menarik benda tersebut kembali ke bawah. Sehingga asumsi lain, diluar adanya gravitasi bumi pada teori occam razor akan dihilangkan dan tidak digunakan. 

Ciri - Ciri Pengaplikasian Occam Razor :

Misal, terdapat beberapa Asumsi atau Penjelasan untuk menarik kesimpulan terhadap sebuah kasus : 

  • Asumsi A
  • Asumsi B
  • Asumsi C
Asumsi paling sederhana mungkin menjadi jawaban yang memiliki kemungkinan paling besar untuk dipilih. Tetapi bukan berarti asumsi yang paling singkat yang akan selalu dipilih. Sehingga Occam's Razor sebenarnya bertujuan untuk menyingkirkan segala komplikasi yang tidak diperlukan yang akan membuat penjelasan menjadi lebih sederhana.



Terdapat 2 asumsi dalam pikiran anda  :


  1. Bahwa ada orang lain masuk ke rumah anda, dan memindahkannya dengan tujuan iseng.
  2. Menganggap kucing anda sendiri melakukannya, hal itu diperkuat karena pada saat anda menaruh kembali tempat makanan kucing itu ditempatnya semula, kucing anda menjilati tempat makanan tersebut hingga bergeser jauh.
Dua penjelasan diatas tampak sangat mungkin terjadi, tetapi manakah yang kira-kira yang akan dipilih jika menggunakan pendekatan Occam's Razor ?

Kita lihat asumsi 1 , jika dilihat dari motivasi dari pelaku yakni iseng dan cara pelaku untuk masuk kerumah anda dengan tanpa meninggalkan jejak sedikitpun yang di temui, maka tidak ada bukti yang menggiring asumsi tersebut benar adanya. Sehingga asumsi kedua lebih masuk akal dan akan dipilih.

Cara Pengaplikasian Occam's Razor

Untuk menerapkan Occam's Razor ini, maka hal yang dilakukan yaitu ;

Tentukan berapa banyak penjelasan yang diperlukan untuk setiap asumsi yang ada, asumsi yang paling kuat dan yang dipilih, harus memiliki bukti yang kuat juga.

-----------------------------------------

Secara garis besar, prinsip ini diuraikan berdasarkan 4 tahap analisis bukti dengan mengetahui :







         Setiap kasus pasti akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh penyidik dalam memecahkan kasus itu sendiri. Selain itu, merumuskan pertanyaan juga penting dilakukan sebelum penyelidikan untuk menghindari adanya mis-conception dari klien / korban / keluarga korban / dan lainnya yang terkait dengan kasus, sehingga apa yang diinginkan klien untuk didapatkan dari penyelidikan dapat terjawab oleh penyidik. Merumuskan pertanyaan untuk memecahkan kasus juga dilakukan agar penyidik sudah mengetahui dengan “clear” apa yang harus dilakukan dalam memecahkan kasus, agar pada saat melakukan penyelidikan, penyidik dapat menghemat waktu, tidak bingung apa yang harus dilakukan, dan dapat bekerja secara sistematis.



         Berdasarkan dari rumusan pertanyaan apa yang anda coba jawab untuk memecahkan kasus, tentunya untuk menjawab hal itu, anda perlu mengetahui data apa sih sebenarnya yang anda butuhkan untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut. Misalnya, siapa yang bersama korban x pada saat berada di lokasi kejadian (misalnya lokasi kejadian di sebuah kelas di suatu sekolah). 

        Maka penyidik perlu mengetahui sekiranya sumber data apa saja yang dapat dimanfaatkan dan tercatat/terekam/tersimpan di lokasi tersebut ? Ternyata di lokasi ada cctv yang merekam kejadian, ternyata di lokasi ada catatan absen kelas untuk mengetahui siapa saja yang hadir pada hari itu, ada saksi mata seperti teman sebangku korban, guru dan lainnya. 



      Setelah mengetahui kemungkinan data-data apa saja yang dapat menjawab pertanyaan yang anda ingin pecahkan di kasus tersebut, maka pertanyaan selanjutnya Bagaimana anda meng-ekstrak data tersebut ? ini penting, agar pada saat ditanyakan oleh majelis hakim di pengadilan, ada catatan lengkap bagaimana anda meng-ekstrak data tersebut sehingga integrita dari data yang anda dapatkan tetap terjaga dan diakui di pengadilan.



          Dari data yang telah didapatkan, kemudian dilakukan analisis terhadap data tersebut untuk mengetahui apa yang didapatkan dan menjadi point of view yang terkait kasus tersebut ? Misalnya dari kasus disekolah yang saya contohkan sebelumnya, ternyata setelah melihat data cctv, kejadian terekam di menit xx : xx sampai xx : xx dan pelakunya terlihat jelas di file tersebut. Kemudian dari foto pelaku di cocokkan berdasarkan kesaksian saksi mata di lokasi. Akhirnya dari data tersebut diketahui siapa pelakunya.

Business Intelligence pada Allrecipes.com

by 4:34 AM

Rules of Evidence : Standart Kesaksian Ahli - Frye dan Daubert Standard

by 4:09 AM

      Tujuan akhir dari proses pemeriksaan digital forensik adalah untuk menemukan dan melaporkan bukti digital untuk disajikan di muka pengadilan. Namun, pemeriksaan tidak ada gunanya jika barang bukti menjadi tidak sah di depan pengadilan. Kesaksian dan bukti ( termasuk laporan dan semua bukti yang dikumpulkan sebagai bagian dari penyelidikan ) hanya akan diterima di depan pengadilan bila diizinkan oleh majelis hakim. Sehingga kita mengenal istilah “Rules of Evidence” yakni aturan tertulis yang mengatur semua bukti dan kesaksian yang dapat disajikan di muka pengadilan. Terdapat beberapa standard yang digunakan oleh pengadilan dalam menerima pembuktian - pembuktian dalam melakukan analisis dan pemeliharaan barang bukti sehingga menjadi sah oleh majelis hakim, antara lain Frye Standard, Daubert Standard, Jones Standard. Pada tulisan saya kali ini, membahasa mengenai Frye dan Daubert Standard.

 Frye Standard

Frye Standard pertama kali dikemukakan pada Court of Appeals pada kasus the District of Collumbia Circuit pada tahun 1923 silam. Frye Standard digunakan ketika pembuktian dengan Scientific Approach atau penemuan yang masih menjadi kontroversi yang masih pada tahap eksperimental dan pembuktian atau dapat dibuktikannya masih sulit dalam hal kesepakatan pendefinisiannya.

Ketika pada tahap “Twilight Zone” yang merupakan keadaan diantara realitas dan fantasi dari ahli dianggap terjadi, pendekatan - pendekatan berdasarkan prinsip - prinsip atau pandangan yang sudah digunakan secara umum sebelumnya harus diakui dan digunakan sehingga pembuktiannya akan kuat, sementara hasil eksperimental dari ahli atau penemuan ilmiah tidak akan menjadi bukti yang kuat meskipun pada prinsip - prinsip yang digunakan secara umum sebelumnya tersebut optimal atau tidak.

Dengan kata lain, kesaksian ahli dan kesaksian penemuan ilmiah, harus berdasarkan atau bersumber dari kutipan prinsip - prinsip sebelumnya yang telah diterima secara umum. Sehingga kesaksian ahli didasarkan dan juga menjadi praktik standar yang telah diterima dan digunakan untuk mengumpulkan informasi guna mengumpulkan bukti.

Daubert Standard

Pada Daubert Standard, Majelis Hakim harus membuat penilaian dahulu untuk menentukan apakah kesaksian yang didasari oleh penalaran atau metodologi secara ilmiah valid atau benar dan dapat diterapkan pada fakta - fakta kasus yang dipertanyakan dipersidangan. Banyak hal - hal yang dipertimbangkan oleh Majelis Hakim khususnya pada proses penyelidikan, seperti :

l Apakah teori atau teknik yang digunakan benar dapat diterapkan dan telah diuji sebelumnya ?

l Apakah subyek penelitian telah mengalami “peer review” ( penilaian termasuk pemeriksaan yang teliti dari sejawat atau pakar lain di satu bidang yang sama terhadap suatu penelitian, untuk menentukan apakah penelitian tersebut telah memenuhi standar disiplin ilmiah dan standar keilmuan pada umumnya ) dalam publikasinya ?

l Bagaimana potensi error-rate dari hasil uji cobanya ?

l Apakah metode yang digunakan telah diterima secara keseluruhan dalam komunitas ilmiah yang relevan ?

l Apakah penelitian telah semata-mata berfokus pada prinsip dan metodologi yang ada, bukan pada kesimpulan yang dihasilkan oleh penyidik ?

Perbedaan Frye Standard dan Daubert Standard

Sehingga, ketika menggunakan frye standard, kesaksian ahli harus berdasarkan dari prinsip - prinsip umum yang telah sering digunakan sebelumnya, meskipun pembuktian secara illmiah tidak diperhitungkan akan tetap sah dan diterima oleh majelis hakim. Sementara Daubert standard, merevisi Frye standard, pada Daubert Standard kesaksian ahli harus berdasar pada pertimbangan penelitian ilmiah dan benar - benar telah diuji dan diakui oleh standar keilmuan pada bidang yang diteliti, dan mempertimbangkan apakah metode tersebut dapat relevan digunakan pada kasus yang ada, tanpa melihat apakah metode atau prinsip - prinsip tersebut menjadi prinsip umum yang dipakai.    

   Berikut merupakan analisis penerapan Frye Standard dan Daubert Standard dilihat dari segi Digital Forensik :


Referensi :

Learning videos from youtube : Dr. Murphy's Lectures of Digital Forensic Evidence - Overview of the rules of evidence related to Frye, Daubert and Jones Standards. Coastal Carolina University, USA.  

Integritas Data Berdasarkan Analisis Hash Value

by 4:23 AM

INTEGRITAS DATA BERDASARKAN ANALISA HASH-VALUE

Nama :  Tommy Nugraha Manoppo
NIM :  17917224


[full-width]

Locard's Exchange Principle - Conventional and Digital Approach

by 4:08 AM

Penerapan Prinsip-Prinsip Yurisdiksi Negara Berdasar Pada Hukum Internasional

by 3:43 AM
Powered by Blogger.